Perempuan mulia,
Khadijah binti khuwailid
(Bagian 2)
Ketertarikan Khadijah pada
Muhammad al-Amin
www.asmarasakinah.com Setelah perdagangan yang
dilakukan oleh Muhammad al-Amin menghasilkan laba yang banyak maka Khadijah pun
merasa gembira akan hal tersebut. Namun ketakjubannya terhadap kepribadian
Muhammad lebih besar dan lebih mendalam daripada semua itu. Maka mulailah
muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau
rasakan sebelumnya. Khadijah merasakan bahwa pemuda ini tidak sebagaimana
kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan lain pun bermunculan.
Akan tetapi Khadijah merasa
pesimis, mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya sudah 40
tahun? Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka
Quraisy yang melamarnya?
Maka disaat kebingungan dan
kegelisahannya karena masalah itu, tiba-tiba muncullah seorang teman yang
bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya ia ikut duduk dan berdialog hingga
dengan kecerdikannya Nafisah mampu menyibak rahasia yang tersembunyi dalam hati
Khadijah tentang problema kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan
menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita
yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas
cantik. Terbukti dengan banyaknya para pemuka quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, tatkala Nafisah
keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga
terjadilah dialog yang menunjukkan akan kelihaian dan kecerdikan dia:
Nafisah : "Apakah yang
menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?"
Muhammad: "Aku tidak
memiliki apa-apa untuk menikah"
Nafisah : (dengan tersenyum
berkata) "Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya, cantik, dan
berkecukupan maka apakah kamu mau menerimanya?"
Muhammad: "Siapa
dia?"
Nafisah : (dengan cepay dia
menjawab) "dia adalah Khadijah binti Khuwailid"
Muhammad : "jika dia
setuju maka akupun setuju"
Pernikahan Khadijah dengan
Muhammad al-Amin
Nafisah pergi menemui
Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin
memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi
Sayyidah Khadijah. Kemudian pergilah Abu Thalib, Hamzah dan yang lain menemui
paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra
saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.
Setelah usai akad nikah
disembelihkah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir.
Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan ternyata diantara
mereka terdapat Halimah Sakdiyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak
yang pernah disusuinya. Setekah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40
ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu
dia telah meyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.
(Bersambung ke bagian 2)
Daftar pustaka:
Baswedan, A.R.1954.Rumah
Tangga Rasulullah. Bulan Bintang, Yogyakarta
Mahdi, M., dan An Nashr
A.M.2011.Mereka Adalah Para Sahabat (edisi Indonesia).At Tibyan,Solo.
Salam Sakinah,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar